Senin, 01 Oktober 2012

Strategi Mendongkrak Stagnasi Keterwakilan Muslimah di Ruang Publik

Mencoba memaparkan rangkuman yang disampaikan sahabatku setiani hafsah dalam kajian akhwat KAMDA Bandung :

Strategi Mendongkrak Stagnasi Keterwakilan Muslimah di Ruang Publik

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. Al-Ahzab : 35)

Ayat di atas bukan hanya ditujukan untuk kaum pria tapi juga untuk perempuan, itu berarti perempuan mempunyai kesempatan yang sama dalam mendapatkan pahala disisi Allah, berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat pun dalam hal lainnya.

Sebelum kita membahas bagaimana cara untuk mendongkrak stagnasi muslimah dalam ruang public, ada baiknya kita memahami bagaimana tentang kepribadian muslimah.

Kepribadian Muslimah menurut Abdul Halim Abu Syuqqah dalam buku Kebebasan Wanita :
  • Wanita adalah manusia yang dilengkapi dengan kemuliaan (Q.S Al isra 70)
  • Wanita adalah manusia yang mempunyai tanggung jawab hampir sama dengan laki-laki dalam perbuatan dan perkataan (Q.S An-Nahl)
  • Wanita adalah manusia yang mempunyai kepribadian tersendiri, bebas memilih, termasuk  memilih pasangan hidupnya
  • Wanita adalah seorang manusia sempurna, pendamping laki-laki dalam kehidupan (QS Al-Baqarah : 187) yang artinya wanita adalah rekan
  • Wanita adalah manusia cerdas, ia mempunyai kegiatan-kegiatan sosial dan politik yang baik dan bermanfaat
  • Wanita adalah pribadi yang normal. Memiliki kelemahan dan kelebihan misalnya dalam hal emosi , lebih teliti, dll

Lalu mengapa wanita  masih banyak yang belum bisa untuk muncul diranah publik, berikut Faktor-faktor yang menghambat keterwakilan perempuan (alasan stagnan) :

  • Sisi internal (tradisi keilmuan dan keterampilan yang masih kurang, rasa malu yang bukan pada tempatnya, malu bicara dan memberi gagasan)
  • Sisi eksternal (ruang-ruang public yang masih terbatas dan sulit akses, seperti kuota 30% di parlemen, dll)
Ada banyak ruang-ruang publik yang bisa di akses muslimah  mulai dari kelas, kampus, organisasi, dimasyarakat  hingga menjadi angota legislatif. Tapi dengan catatan disesuaikan dengan keilmuan masing2

Lantas bagaimana Strategi mendobrak stagnasi keterwakilan perempuan ? 

  •  Optimalkan potensi yang dimiliki berdasarkan karkater tadi (munculkan ide-ide segar)
  •  Melaksanakan kewajiban-kewajiban agama (akal, ruh, jasad, dll)
  •  Isi ruang-ruang publkik yang bisa di akses (peran di masyarakat , kampus, sosial, dll)
To be continue……..